Khotbah Idul Fitri 1441 H:

72 0

_Hikmah Di Balik Pandemik Covid-19

 

, Khotbah Idul Fitri 1441 H:
Idul Fitri 1441 H_2020

Ma’asyiral Muslimiin Jamaah Shalat Idul Fitri Rohimakumullah

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, banyak pesan, kesan dan kenangan melekat di hati kita. Idul fitri kali ini berbeda dari biasanya, karena saat ini berada dalam situasi pandemik Covid-19, sehingga banyak amal ibadah yang lazimnya kita jalankan dengan berjamaah di masjid, seperti shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat tarawih dan shalat Idul Fitri di lapangan, tetapi dalam suasana seperti ini banyak umat Islam melaksanakan semua ibadah tersebut di rumah. Alhamdulillah di pagi yang cerah ini kita bisa melaksanakan shalat Idul Fitri di tempat tercinta ini.

Sholawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mendakwahkan Islam secara kaaffah, 13 tahun di Makkah berdakwah menguatkan aqidah, 10 tahun di Madinah hingga lengkaplah syariah Islam hingga tegaknya masyarakat yang barokah.

Allahu Akbar ! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walilahilham!

Ma’asyiral Muslimiin Jamaah Shalat Idul Fitri Rohimakumullah

Wabah Covid-19 telah dua bulan lebih melanda negeri kita tercinta ini. Yang semula tenang, tenteram, tiba-tiba semuanya hiruk pikuk menyelamatkan diri dari serangan Covid-19. Yang semuanya dulu serba dekat kini serba jaga jarak, serba khawatir, takut terpapar atau justru pembawa Covid-19. Inilah yang banyak orang menyebutnya sebagai perang asimetris. Tidak tahu “musuh”, yang jelas semuanya jaga jarak, “menembaknya”pun ke segala arah. Semua diwaspadai sebagai “musuh”, rasanya “ada” Covid-19 dalam dirinya. Kalau perang simetris jelas musuhnya, berhadap-hadapan sehingga ujung senapan arahnya pun jelas, ke musuh.

Munculnya wabah Covid-19 ini menjadikan beberapa hikmah pada manusia dan alam semesta. Ada efek bumi dan efek langit. Berikut ini hikmah yang bisa kita ambil dari era Covid-19.

Dari sisi efek bumi, memunculkan beberapa hikmah, di antaranya: (1) Polusi berkurang. Foto-foto NASA memperlihatkan bahwa bumi lebih bersih setelah ada Covid-19 seperti Cina, Italia, dan Amerika. Langit Jakarta dan wilayah lain yang menerapkan Lockdown yang dalam bahasa kita Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tampak biru dan udara juga terlihat bersih karena ada pembatasan pergerakan orang maupun kendaraan secara drastis. (2) Pemanasan global turun setelah nitrogen dioksida yang turun dratis karena pabrik-pabrik ditutup, serta berkurangnya penggunaan zat-zat yang meningkatkan pemanasan global. (3) Laut jadi lebih tenang. Karena banyak kapal memilih merapat di pelabuhan, sehingga lalu lintas di laut berkurang. Laut pun jadi lebih tenang, ekosistem laut juga terlindungi. Seluruh habitat baik biota yang ada di laut lebih tenang dan bebas beraktivitas. Pendek kata bumi dan alam semesta menjadi segar, seperti remaja lagi setelah di refresh oleh munculnya Covid-19. (4) Memaksa kita pada kebiasaan baru, yakni hidup dengan kualitas kesehatan yang lebih baik demi meningkatkan imunitas tubuh, social distancing, physical distancing, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah, berkomunikasi lewat teknologi terbaru – tidak hanya SMS, WhatsApp dan Skype – tetapi juga berdiskusi dan berseminar lewat Zoom dan berbagai perangkat teknologi informasi lainnya. (5) memunculkan dan menumbuhkembangkan semangat kemanusiaan dan gotong royong, dan lain sebagainya.

Sedang dari efek langit, hikmah yang bisa diambil adalah: pertama, corona menjadikan renungan bagi kita bahwa dosa, maksiat, dan kemungkaran telah mewabah di lingkungan kita. Kita ditegur karena banyak di antara kita yang acuh tak acuh terhadap kemungkaran yang juga mewabah di tengah-tengah kita. Kemungkaran, dosa dan maksiat itulah yang mengundang azab Allah kepada kita semua. Kita diingatkan untuk lebih giat lagi dalam beramar makruf dan bernahi mungkar.

Kedua, corona mengingatkan kelemahan kita sebagai makhluk Allah yang lemah, penuh keterbatasan. Karena itu selayaknya kita menyombongkan diri. Hanya oleh makhluk yang sangat kecil saja, banyak orang dibuat tak berdaya, jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia. Hanya Allah yang Maha Kuasa. Sedangkan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan Allah dalam setiap tarikan nafas kita.

Ketiga, corona, mengingatkan kita untuk semakin dekat kepada Allah dengan ibadah, baca Al Qur’an, dzikir dan berdoa. Doa-doa keselamatan itu sudah kita lafadzkan di setiap pagi dan sore, diantaranya: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’alim (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu di bumi dan di langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Barang siapa yang membaca dzikir tsb di pagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Ibadah (jika dilakukan dengan sungguh-sugguh) akan menenteramkan jiwa dan menenangkan hati. Ketenteraman dan ketenangan hati inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat daya tahan tubuh kita semakin kuat dan sistem imun dalam tubuh kita bekerja dengan baik. Seseorang yang daya tahan tubuhnya kuat, meskipun terinveksi virus corona—kata para ahli—maka ia bisa sembuh dengan sendirinya tanpa harus dirawat di rumah sakit. Kita diingatkan untuk memperbanyak istighfar dan bertobat dari semua dosa yang pernah kita lakukan.

Keempat, corona mengingatkan kita untuk bersedekah, karena sedekah merupakan salah satu penyelesaian langit yang mampu menolak balak. Diriwayatkan dari Asma’ radhiyallahu ‘anha ia berkata,

“Aku bertanya,” Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai harta selain yang diberikan Zubair kepadaku, apakah aku boleh menshodaqohkannya? “Beliau menjawab: “Bershodaqohlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya, niscaya Allah akan memperhatikan dirimu” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Kelima, corona mengingatkan kita untuk belajar ilmu agama, agar mampu menyikapi musibah dengan benar sesuai tuntunan Islam. Dengan ilmu pulan kita mampu mempertahankan bahkan meningkatkan amalan-amalan Ramdhan secara benar. Sebab yang terjadi saat ini, kebanyakan setelah selesai Ramadhan amalannya juga berakhir, bahkan kembali seperti sebelum Ramadhan, begitulah seterusnya dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain. Tabiat seperti ini sampai-sampai disindir Allah dalam QS An Nahl: 92:

92. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Allahu Akbar ! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walilahilham!

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah!

Keenam, corona menjadikan manusia sadar dan kembali beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga barakah dari langit dan dari bumi dilimpahkan Allah kepada penduduk bumi. Allah berfirman dalam surat Al A’raaf: 96:

96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ketujuh, corona memperlihatkan pada kita mana hamba-hamba Allah yang betul-hamba dekat dengan-Nya dan mana hamba-hamba Allah yang munafik.

Semoga Allah tetap melindungi hamba-hamba-Nya yang masih istiqomah di jalan-Nya yakni jalan jihad dan dakwah agar tetap kuat dalam menghadapi cobaan, ujian dan rintangan-rintangan ini. Hanya kepada Allah kita berserah diri. Dan semoga kita mampu meningkatkan iman, amal shalah, dan mengedepankan akhlakul karimah agar masyarakat kita menjadi sejuk, aman, tentram dan sejahtera. Dan mudah-mudah wabah covid-19 segera diangkat Allah dari muka bumi

Related Post

DPR akhirnya sahkan UU Desa

Posted by - December 18, 2013 0
Merdeka.com – Setelah mengalami proses pembahasan yang panjang, akhirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Desa disahkan oleh DPR untuk menjadi undang-undang. Dalam…